Kumpulan Ikhtisar

Kamis, 08 November 2012

Rasionalitas Ekonomi Islam Part I

Bismillah

Assalatu Assalamu ‘ala Rasulillah

Teman-teman sekalian. Islam sebagai way of life sangat komprehensif, terbukti dengan kesempurnaan Islam di segala lini kehidupan. Sempurna dari sisi waktu (Syummuliatuz Zaman), sempurna dari sisi tempat (Syummuliatul Makaan), juga sempurna dari sisi life style (Syummuliatul Minhaj). Dan beruntunglah seluruh umat Manusia atas Muslim sejati yang senantiasa berperan sebagai Rahmatan lil ‘Alamin.


Dalam dunia Ekonomi, rasionalitas sering dianggap sebagai tingkatan pengambilan keputusan yang rational (masuk akal). Ukuran rasionalitas dalam dunia konvensional selalu diukur dengan alat materi. Kenapa? Wajar saja, hal ini dikarenakan tumbuhnya mindset dalam masyarakat kita bahwa materi adalah segalanya. Materialistis telah merasuk dalam jiwa-jiwa masyarakat sekarang ini. Mungkin gambar ini dapat mewakili analogi singkat sifat materialistis (mungkin saja) kita miliki:



Jika teman mendapat kesempatan mendapatkan hadiah dari dua opsi di atas, manakah yang teman-teman pilih? Kalau teman betul memiliki tingkat rasionalitas tinggi, maka teman secara otomatis memilih yang 27 juta. Dan itu wajar.

Kenapa iya? Kenapa wajar? Tanpa pengorbanan apapun kita mendapat “materi” secara Cuma-cuma, why not? Free of charge! Sikat cepat! Atau ekspresi lain yang mewakili perasaan teman. Haha~

Tapi, apakah teman sadar? Ternyata, ukuran rasionalitas ini bermula dari konsep materialisme yang berakar dan akut. Ibarat penyakit yang komplikasi. Dokterpun kalangkabut mencarikan obat. Alat ukur kita yang materialis membuat kita fana. Dan terus fana. Perbandingan pengambilan keputusan adalah yang terus kita pakai adalah:


Pengorbanan > Balas Budi → Libass

Dan ini berlaku umum. Jika syarat di atas terpenuhi, maka haqqul yakin teman akan menerima tawarantersebut. Dan mungkin saja penulis juga berlaku seperti itu, yakan? Kalau kamu?

Akan tetapi, coba kita angkat dari peristiwa di bawah ini:


See? Don’t you get it?
Tapi, terkadang kita tidak rasional. Hal ini terbukti dari ketidakadilan kita dalam bertindak dan mengambil keputusan. Sudah barang tentu mhy, shalat berjama’ah lebih besar imbalan pahala dari Allah SWT, tapi masih sering kita lalai akan hal yang satu ini. Jika saja kita lebih konsisten dalam pengambilan keputusan, seperti rumus yang tertera di atas. Maka pantaskah kita disebut berakal?

Dalam rasionalitas, kita juga sering mengambil dua terminologi yaitu metode dan hasil. Dalam hal metode, rasional berarti tindakan yang diambil berdasarkan alasan yang tepat, bukan berdasarkan pada kebiasaan, prasangka, dan emosi. Kalau dalam hal hasil, rasional berarti tindakan yang diambil adalah benar-benar dapat mencapai tujuan.

Pusing yah? Kalau begitu, langsung saja kita belajar teori rasionalitas~

Asumsi Rasionalitas
Jenis Rasionalitas


  • Rasionalitas Kepentingan Pribadi
Jangan salah persepsi yah teman. Kepentingan pribadi dalam hal ini tidak hanya mencakup kepentingan akan satuan moneter. Tentu saja, tujuan kepentingan pribadi jua mencakup prestise, persahabatan, cinta, kekuasaan, menolong sesama, dll. Kita juga berasumsi bahwa pencapaian kepentingan pribadi juga mencapai kepentingan sekelilingnya. Dengan kalimat lain, jika kita membuat diri kita lebih baik, maka kita membuat lingkungan kita lebih baik pula.


  • Present-aim Rasionality
Jenis rasional ini berasumsi bahwa manusia harus menyesuaikan preferensinya dengan aksioma dan juga harus konsisten. InsyaAllah dijelaskan di bawah.

Aksioma (Sifat Dasar) Pilihan Rasional

  • Kelengkapan (completeness)
Jika diperhadapkan dua pilihan antara A dan B, maka alternatif yang teman hadapai pasti seperti ini:


A lebih disukai dari B (A>B)
B lebih disukai dari A (B>A)
A dan B sama-sama disukai

  • Transitivitas (Transitivity)
Asumsi ini menyatakan kekonsistensian kita (secara nominal). Jika diperhadapkan antara pilihan A, B, dan C:

Jika A>B
Dan Jika B>C
Maka harus A>C

  • Kontinuitas (Continuity)
Jika diperhadapkan antara A dan B:


Jika A>B
dan jika C adalah hampir mirip A
Maka harus C>B


Adapula Preferensi Lain yang Dipakai


  • Strong Monotonicity
Bahwa lebih banyak berarti lebih baik.


  • Local Nonsatiation
Membantah Strong Monotonicity bahwa tidak selamanya lebih banyak lebih baik. Seseorang dapat berbuat lebih baik sekecil apapun dalam “keranjang konsumsinya”

  • Strict Convexity
Bahwa lebih suka yang rata-rata dari pada yang ekstrim. Sedang-sedang toh?

Setelah mempelajari Aksioma dan preferensi di atas, mari kita kaji Rasionalitas menurut Islam.

RASIONALITAS DALAM ISLAM

Perluasan Konsep Transitivitas

Konsep transitivitas yang dibahas di atas telah menunjukkan kita sifat konsistensi dalam pengambilan keputusan. Mungkin hal ini didasari oleh dasar nominal yang bersifat exact, teman. Mari kita tengok:

Jika pendapatan Rp5.000.000 lebih disukai dari pada pendapatan Rp1.000.000 dan jika pendapatan Rp1.000.000 lebih disukai dari pendapatan Rp500.000, maka sangat impossible pendapatan Rp500.000 lebih disukai daripada pendapatan Rp5.000.000.

Dalam aksioma completeness, juga dibahas mengenai konsep alternatif pilihan. Akan tetapi, tidak perlu diperhatikan lebih jauh. Hal ini dikarenakan aksioma completeness tidak menunjukkan bentuk kekonsistensian. Oleh karenanya, fokus rasionalisasi Rasionalitas akan tertuju pada aksioma transitivity.
  • Syarat Transitivity
Mari mengambil contoh kongkrit yang dapat mendeskripsikan konsep intransitivity yang sekaligus menunjukkan bentuk konsisten. Mau tau? Mau tau? Haha~

Baco ingin membeli Laptop di Pasar. Berikut adalah preferensi yang Baco miliki:
-          Jika perbedaan kualitas signifikan (>5), maka kualitas tinggi adalah faktor penentu.
-          Jika perbedaan kualitas insignifikan (≤5), maka harga murah adalah faktor penentu.

Berikut adalah katalog Laptop yang dipegang Baco di Pasar:

Laptop
Kualitas
Harga
Aher
10
Rp          7.000.000
Tochiba
7
6.000.000
Accioo
4
5.000.000

Dan berikut adalah tabel alternatif pengambilan keputusan Baco:

Alternatif
Perbedaan Kualitas
Penentu
Pilihan Jatuh pada
Preferensi
Aher – Tochiba
3
Harga
Tochiba
Tochiba>Aher
Tochiba – Accioo
3
Harga
Accioo
Accioo>Tochiba
Accioo – Aher
6
Kualitas
Aher
Aher>Accioo


Hal ini menunjukkan bahwa meski Baco lebih memilih Aher daripada Accioo, Baco tetap pada posisi konsisten, walau sekiranya hal ini mencerminkan instransitivity secara sekilas.

  • Utilitas dan Infaq (Sedekah)
Ini yang krusial. InsyaAllah setelah membaca ini, semoga hati kita terguncah melihat kecemerlangan sistem Ekonomi Islam (mikro). Mari kita bahas dengan contoh kongkrit.

Bacce adalah seorang muslimah yang meyakini bahwa Bacce akan merasa lebih baik jika menyedekahkan sebahagian pendapatannya pada Bicee. Bicce kebetulan adalah kaum dhuafa yang sudah lama meninggal orang tuanya. Fungsi Utilitas Bacce adalah sebagai berikut:

Uf= U (MBa,Bi)


Sejumlah pendapatan Bacce dialihkan ke Bicce. Hal ini rasional dan tidak terkandung unsur inkonsistensi. Preferensi Bacce jelas bahwa menyedekahkan pendapatannya di jalan Allah adalah hal yang syar’i yang dianjurakan sebagai bentuk rahmatan lil ‘alamin yang juga merupakan bentuk distribusi pendapatan yang real untuk menumbuhkan kesejahteraan sosial.

0 komentar:

Posting Komentar